Ramadan yang Hangat: Ketika Komunitas Rielzteam Berbagi Harapan untuk Penyandang Disabilitas

Posthing.id — Senja perlahan turun di langit Jakarta Timur pada Minggu (8/3). Cahaya matahari yang meredup berpadu dengan suasana Ramadan yang hangat. Di sebuah sudut kota, puluhan anggota komunitas motor Rielzteam berkumpul dengan satu tujuan sederhana namun bermakna: berbagi kebahagiaan.

Sore itu, perjalanan mereka tidak sekadar tentang berkendara. Dari titik kumpul di KFC Malang, rombongan bersiap menuju lokasi acara di Bakso Garuda 84. Setelah briefing singkat dan doa bersama, mesin-mesin motor dinyalakan.

Mereka melaju bersama menuju tempat di mana kebersamaan akan dirayakan. Namun perjalanan itu bukan sekadar riding komunitas biasa. Di ujung perjalanan, ada harapan yang hendak mereka bagikan kepada sesama.

Kebersamaan di Bulan Penuh Berkah
Setibanya di lokasi, suasana kehangatan langsung terasa. Para anggota komunitas datang tidak hanya sendirian, tetapi juga bersama pasangan dan keluarga. Tawa, obrolan ringan, dan saling sapa mengisi ruangan menjelang waktu berbuka.

Ketua komunitas, Ariel, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ini telah menjadi tradisi bagi komunitas mereka setiap Ramadan.

“Ramadan adalah waktu terbaik untuk berbagi. Selain mempererat persaudaraan di antara anggota komunitas, kami juga ingin hadir memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Bagi komunitas Rielzteam, kegiatan ini bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah cara mereka mengingat bahwa kebersamaan akan terasa lebih berarti ketika dibagikan kepada orang lain.

Doa, Tausiah, dan Harapan

Acara dimulai dengan pembukaan sederhana, kemudian dilanjutkan tausiah oleh Habib Alwi Assegaf, yang juga merupakan anggota komunitas.

Kata-kata yang disampaikan dalam tausiah itu mengingatkan para hadirin tentang makna Ramadan—tentang empati, kesabaran, dan kepedulian.

Tak lama kemudian, suara azan Magrib berkumandang. Doa dipanjatkan bersama sebelum akhirnya semua yang hadir menikmati hidangan berbuka puasa.

Di meja-meja sederhana itu, tak ada sekat antara anggota komunitas, keluarga, maupun para tamu. Semua duduk bersama dalam suasana hangat penuh kebersamaan.

Donasi yang Membawa Harapan

Momen paling mengharukan terjadi ketika komunitas Rielzteam menyerahkan donasi kepada Yayasan Disabilitas Kota Bekasi.
Donasi sebesar Rp5 juta diserahkan langsung oleh ketua komunitas bersama para pengurus, disaksikan sekitar 40 anggota komunitas dan 15 penyandang disabilitas yang hadir mewakili yayasan.

Ketua pelaksana kegiatan, Rizky Fernando Atmajaya, menjelaskan bahwa seluruh dana tersebut berasal dari kontribusi para anggota komunitas.

“Semua ini murni dari kebersamaan teman-teman di komunitas. Kami berharap bantuan ini bisa membantu para penyandang disabilitas untuk mengembangkan usaha kecil mereka,” katanya.

Menurut Rizky, hubungan komunitas Rielzteam dengan yayasan tersebut telah terjalin cukup lama. Bahkan, penyaluran donasi kali ini merupakan yang ketiga kalinya.

Semangat untuk Mandiri

Bagi pihak yayasan, bantuan tersebut bukan sekadar angka.

Perwakilan yayasan, Paini, mengaku sangat terharu atas kepedulian yang diberikan komunitas tersebut.

“Bantuan seperti ini membuat para penyandang disabilitas semakin semangat menjalankan usaha kecil mereka. Kami ingin menunjukkan bahwa kami juga bisa mandiri,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.

Di tengah berbagai keterbatasan, dukungan seperti itu menjadi penyemangat untuk terus melangkah.

Lebih dari Sekadar Komunitas Motor
Bagi banyak orang, komunitas motor identik dengan kegiatan berkendara dan hobi otomotif. Namun bagi Rielzteam, komunitas ini juga menjadi ruang untuk menumbuhkan kepedulian sosial.

Ketua komunitas menegaskan bahwa kegiatan sosial seperti ini akan terus dilakukan di masa mendatang.

“Semoga apa yang kami lakukan hari ini bisa membawa manfaat. Kami ingin Rielzteam tidak hanya dikenal sebagai komunitas motor, tetapi juga sebagai komunitas yang hadir untuk masyarakat,” kata Ariel.

Di tengah hiruk-pikuk kota, kegiatan sederhana seperti itu mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.

Ramadan juga tentang berbagi harapan.
Dan pada sore itu, di sebuah rumah makan sederhana di Jakarta Timur, harapan itu terasa nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *